Guru tua, begitu Beliau disapa. Beliau adalah Ulama Hadramaut yang
hijrah ke Indonesia untuk menjaga benteng pertahanan akidah Islam di
Sulawesi dari rongrongan ancaman Missionaris Kristen. Beliaulah pendiri
Yayasan Alkhairaat, yang kini terdiri dari TK, SD, SMP,SMA, SMK,MI, MTS,
MA hingga Universitas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam Al-Khairaat
berpusat di Kota Palu dan menyebar ke daerah sekitar, menjadikannya
sebagai pintu gerbang dakwah Islam di Kawasan Timur Nusantara. Nasab
Beliau adalah : Habib Idrus bin Salim bin Alwi bin Segaf bin Alwi bin
Abdullah bin Husein bin Salim bin Idrus bin Muhammad bin Abdullah bin
Alwi bin Abu Bakar Aljufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad
bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ali bin Muhammad Faqqqih Al-Muqaddam
bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Ali
AL-‘Uraidhi bin Jakfar As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal
Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Azzahrah binti
Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Habib Idrus lahir di kota Taris, 4
km dari ibu kota Seiwun, Hadramaut, pada 14 sya’ban 1309 H bertepatan
dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari
ayah dan lingkungan keluarganya. Ayah beliau, Habib Salim adalah seorang
qadhi (hakim) dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak untuk
memberi fatwa) di Kota Taris, Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Al
Habib Alwi bin Segaf Aljufri, adalah seorang ulama di masa itu. Beliau
adalah salah satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut yang
fatwa-fatwanya terkumpul dalam kitab Bulughul Musytarsyidin, karya
Al-Imam Al-habib Abdurrahman Al-Masyhur. Tatkala Habib Idrus menginjak
usia remedial, ayah Beliau Al-Habib Salim melihat bahwa kelak anak nya
ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara
khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat
berkonsentrasi dalam belajar. Habib Idrus kemudian mendalami berbagai
Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani,
bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra. Selain pada
ayahnya, Habib Idrus juga belajar kepada Para Ulama dan Auliya’ di
Hadramaut, diantaranya adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf,
Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin
Ibrahim bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh Al-Bahar,
Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dan Al-Habib Abdullah bin Umar
As-Syathiri di Rubath Tarim. Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar
tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib Idrus berangkat ke tanah suci
untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah
salallahu alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka menetap selama enam
bulan. Selama itu Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk mengajak
putranya ini berziarah kepada para ulama dan Auliya’ yang berada di
Hijaz pada masa itu, untuk memminta berkah, do’a serta ijazah dari
mereka. Salah satunya kepada Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani di Makkah.
Habib Salim kemudian membawa putranya kembali ke Hadramaut. Setelah itu
beliau membawa Habib Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota
Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur Al-Jufri serta Habib Alwi dan
Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandung Habib Idrus yang telah
terlebih dahulu hijrah ke Indonesia. Setelah beberapa waktu di
Indonesia, Habib Idrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Sebtibanya di
Hadramaut, Habib Idrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah
beliau. Setelah itu Habib Idrus menikah dengan Syarifah Bahiyah, yang
kemudian dikaruniai tiga orang anak: Habib Salim, Habib Muhammad dan
Syarifah Raguan. Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan 1906 M ayah
beliau wafat. Dan pada tahun itu pula Habib Idrus diangkat oleh Sultan
Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, padahal usianya
saat itu baru 25 Tahun. Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam
penjajahan Inggris. Pada masa penjajahan Inggris itulah Habib Idrus
bersama seorang sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah (keduanya
dikenal sebgai ulama yang moderat) bermaksud ke Mesir untuk
mempublikasikan kekjaman Inggris dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang
dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Setelah sesuatunya dipersiapkan
dengan matang dan rapi, keduanya berangkat melalui Pelabuhan Aden. Namun
di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh pasukan
Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah
ditanah beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka
tidak diperbolehkan bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian
itu Habib Abdurrahman memilih tinggal di Hadramaut, sedangkan Habib
Idrus memilih hijrah ke Indonesia. Pada tahun 1925 M Habib Idrus kembali
untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada mulanya beliau tinggal di
Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan Syarifah Aminah
Al-Jufri. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan,
Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah
dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufri, yang salah seorang anaknya
adalah Dr.Salim Segaf Al-Jufri, Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi
periode sekarang. Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang,
disana beliau mengajar dan berdagang. Namun di penghujung tahun 1928 M
karena seringkali mengalami kerugian dalam berdagang, Habib Idrus
berhenti Berdagang dan memulai mengajar. Di tahun itu pula beliau pindah
ke kota Solo. Pada tanggal 27 Desember 1928 bersama beberapa Habaib
beliau mendirikan Madrasah Rabithah Alawiyah di kota Solo. Namun, pada
akhir tahun 1929 M Habib Idrus meninggalkan kota Solo dan hijrah ke
Sulawesi. Beliau kemudian berlayar menuju Manado. Ketika kapalnya
singgah di Donggala, Habib Idrus menggunakan kesempatan itu untuk
berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin Khams
Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk
mendirikan madrasah di kota Palu. Setibanya di Manado, Habib Idrus
mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah masyarakat arab yang ada
di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya disepakati
bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh
masyarakat arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib Idrus yang akan
mengusahakannya. Pada awal 1930 M Habib Idrus menuju kota Palu. Dan pada
tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus prizinan pendirian dan
surat-surat lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka, diresmikanlah
Madrasah Al-Khairaat di Kota Palu. Dalam perkembangannya, pengelolaan
Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Habib Idrus. Para murid yang belajar
di sana tidak dipungut biaya sama sekali. Hal ini karena Habib Idrus
mengadaptasi sistem pendidikan arab yang pada umumnya tidak memungut
biaya kepada para muridnya. Sehingga para murid lebih fokus dalam
belajar. Habib Idrus membrikan gaji kepada para guru dan staf sekolah
dari hasilnya berdagang. Habib Idrus mengajar para santrinya dengan
penuh dedikasi dan profesionalitas yang tinggi. Keikhlasan dan keuletan
beliau telah membuahkan hasil. Perguruan Al-Khairaat waktu itu telah
menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang kemudian disebarkan ke
seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya.
Keberadaan perguruan Al-Khairaat dan para santrinya telah berhasil
membentengi kawasan Timur Indonesia dari para penginjil, yang waktu itu
pada masa Hindia Belanda ada tiga organisasi yang bertugas
mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah
Indische Kerk (IK) berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap
(NZG) berpusat di Tentena, dan Leger Dois Hest (LDH) berpusat di
Kalawara. Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan
menjadikan kota Manado sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur
Indonesia. Tidak berselang lama stelah itu, Jepang memerintahkan
penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga setengah tahun kependudukan
Jepang, Habib Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk mengajar para
muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun secara
sembunyi-sembunyi. Lokasi pembelajarandialihkan ke desa Bayoge, yang
berjarak satu setengah kilometer dari lokasi perguruan Al-Khairaat.
Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya menggunakan
penerangan seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi-
sembunyi. Tepat saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945 Habib Idrus kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara
resmi. Beliau berjuang kembali untuk mengembangkan dakwah dan pendidikan
Islam. Hingga selama kurun waktu 26 tahun (1930-1956) lembaga yang
telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur.
Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka
perguruan tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam
Al-Khairaat dengan tiga fakultas di dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra,
Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syariah. Dan Habib Idrus sebagai Rektor
pertamanya. Ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI pada tahun
1965, perguruan tinggi Al-Khairaat dinonaktifkan untuk sementara. Para
Mahasiswanya diberikan tugas untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil
kawasan Sulawesi. Hal ini sebagai upaya untuk membendung paham komunis
sekaligus melebarkan dakwah Islam. Setelah keadaan kondusif, pada tahun
1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali. Masih dalam suasana
Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib Idrus kembali
kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama dan
Sastrawan itu wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan
22 Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib
Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam
shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima
jenazah di Liang lahat, muadzin di liang lahad, sampai yang membaca
talqin di kubur. Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun
karya besarnya adalah Al-Khairaat dan murid-muridnya yang telah
memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umat. Mereka para
murid-murid Al-Khairaat meneybar di seluruh kawasna Indonesia untuk
meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah
satu murid belia yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustad Abdullah Awadh
Abdun, yang hijarh dari kota Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan
mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid di Kota
Malang. Ketika wafat, Habib Idrus telah mewariskan 25 cabang Alkhairaat
dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala
hidupnya. Kini perguruan Besar Alkahiraat dan Yayasan Al-khairaat,
dibentuk pula Wanita Islam Al-Khairaat dan Himpunan Pemuda Al-Khairaat.
Wallahu A`lam !!! - Home Unlabelled Habib Idrus bin Salim Al Jufri, Pendiri Yayasan Alkhairaat Sulteng
Habib Idrus bin Salim Al Jufri, Pendiri Yayasan Alkhairaat Sulteng
11:45 PM /
Unknown /
Guru tua, begitu Beliau disapa. Beliau adalah Ulama Hadramaut yang
hijrah ke Indonesia untuk menjaga benteng pertahanan akidah Islam di
Sulawesi dari rongrongan ancaman Missionaris Kristen. Beliaulah pendiri
Yayasan Alkhairaat, yang kini terdiri dari TK, SD, SMP,SMA, SMK,MI, MTS,
MA hingga Universitas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam Al-Khairaat
berpusat di Kota Palu dan menyebar ke daerah sekitar, menjadikannya
sebagai pintu gerbang dakwah Islam di Kawasan Timur Nusantara. Nasab
Beliau adalah : Habib Idrus bin Salim bin Alwi bin Segaf bin Alwi bin
Abdullah bin Husein bin Salim bin Idrus bin Muhammad bin Abdullah bin
Alwi bin Abu Bakar Aljufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad
bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ali bin Muhammad Faqqqih Al-Muqaddam
bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Ali
AL-‘Uraidhi bin Jakfar As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal
Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Azzahrah binti
Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Habib Idrus lahir di kota Taris, 4
km dari ibu kota Seiwun, Hadramaut, pada 14 sya’ban 1309 H bertepatan
dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari
ayah dan lingkungan keluarganya. Ayah beliau, Habib Salim adalah seorang
qadhi (hakim) dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak untuk
memberi fatwa) di Kota Taris, Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Al
Habib Alwi bin Segaf Aljufri, adalah seorang ulama di masa itu. Beliau
adalah salah satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut yang
fatwa-fatwanya terkumpul dalam kitab Bulughul Musytarsyidin, karya
Al-Imam Al-habib Abdurrahman Al-Masyhur. Tatkala Habib Idrus menginjak
usia remedial, ayah Beliau Al-Habib Salim melihat bahwa kelak anak nya
ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara
khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat
berkonsentrasi dalam belajar. Habib Idrus kemudian mendalami berbagai
Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani,
bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra. Selain pada
ayahnya, Habib Idrus juga belajar kepada Para Ulama dan Auliya’ di
Hadramaut, diantaranya adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf,
Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin
Ibrahim bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh Al-Bahar,
Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dan Al-Habib Abdullah bin Umar
As-Syathiri di Rubath Tarim. Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar
tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib Idrus berangkat ke tanah suci
untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah
salallahu alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka menetap selama enam
bulan. Selama itu Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk mengajak
putranya ini berziarah kepada para ulama dan Auliya’ yang berada di
Hijaz pada masa itu, untuk memminta berkah, do’a serta ijazah dari
mereka. Salah satunya kepada Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani di Makkah.
Habib Salim kemudian membawa putranya kembali ke Hadramaut. Setelah itu
beliau membawa Habib Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota
Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur Al-Jufri serta Habib Alwi dan
Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandung Habib Idrus yang telah
terlebih dahulu hijrah ke Indonesia. Setelah beberapa waktu di
Indonesia, Habib Idrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Sebtibanya di
Hadramaut, Habib Idrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah
beliau. Setelah itu Habib Idrus menikah dengan Syarifah Bahiyah, yang
kemudian dikaruniai tiga orang anak: Habib Salim, Habib Muhammad dan
Syarifah Raguan. Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan 1906 M ayah
beliau wafat. Dan pada tahun itu pula Habib Idrus diangkat oleh Sultan
Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, padahal usianya
saat itu baru 25 Tahun. Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam
penjajahan Inggris. Pada masa penjajahan Inggris itulah Habib Idrus
bersama seorang sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah (keduanya
dikenal sebgai ulama yang moderat) bermaksud ke Mesir untuk
mempublikasikan kekjaman Inggris dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang
dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Setelah sesuatunya dipersiapkan
dengan matang dan rapi, keduanya berangkat melalui Pelabuhan Aden. Namun
di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh pasukan
Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah
ditanah beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka
tidak diperbolehkan bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian
itu Habib Abdurrahman memilih tinggal di Hadramaut, sedangkan Habib
Idrus memilih hijrah ke Indonesia. Pada tahun 1925 M Habib Idrus kembali
untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada mulanya beliau tinggal di
Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan Syarifah Aminah
Al-Jufri. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan,
Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah
dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufri, yang salah seorang anaknya
adalah Dr.Salim Segaf Al-Jufri, Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi
periode sekarang. Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang,
disana beliau mengajar dan berdagang. Namun di penghujung tahun 1928 M
karena seringkali mengalami kerugian dalam berdagang, Habib Idrus
berhenti Berdagang dan memulai mengajar. Di tahun itu pula beliau pindah
ke kota Solo. Pada tanggal 27 Desember 1928 bersama beberapa Habaib
beliau mendirikan Madrasah Rabithah Alawiyah di kota Solo. Namun, pada
akhir tahun 1929 M Habib Idrus meninggalkan kota Solo dan hijrah ke
Sulawesi. Beliau kemudian berlayar menuju Manado. Ketika kapalnya
singgah di Donggala, Habib Idrus menggunakan kesempatan itu untuk
berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin Khams
Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk
mendirikan madrasah di kota Palu. Setibanya di Manado, Habib Idrus
mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah masyarakat arab yang ada
di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya disepakati
bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh
masyarakat arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib Idrus yang akan
mengusahakannya. Pada awal 1930 M Habib Idrus menuju kota Palu. Dan pada
tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus prizinan pendirian dan
surat-surat lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka, diresmikanlah
Madrasah Al-Khairaat di Kota Palu. Dalam perkembangannya, pengelolaan
Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Habib Idrus. Para murid yang belajar
di sana tidak dipungut biaya sama sekali. Hal ini karena Habib Idrus
mengadaptasi sistem pendidikan arab yang pada umumnya tidak memungut
biaya kepada para muridnya. Sehingga para murid lebih fokus dalam
belajar. Habib Idrus membrikan gaji kepada para guru dan staf sekolah
dari hasilnya berdagang. Habib Idrus mengajar para santrinya dengan
penuh dedikasi dan profesionalitas yang tinggi. Keikhlasan dan keuletan
beliau telah membuahkan hasil. Perguruan Al-Khairaat waktu itu telah
menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang kemudian disebarkan ke
seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya.
Keberadaan perguruan Al-Khairaat dan para santrinya telah berhasil
membentengi kawasan Timur Indonesia dari para penginjil, yang waktu itu
pada masa Hindia Belanda ada tiga organisasi yang bertugas
mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah
Indische Kerk (IK) berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap
(NZG) berpusat di Tentena, dan Leger Dois Hest (LDH) berpusat di
Kalawara. Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan
menjadikan kota Manado sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur
Indonesia. Tidak berselang lama stelah itu, Jepang memerintahkan
penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga setengah tahun kependudukan
Jepang, Habib Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk mengajar para
muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun secara
sembunyi-sembunyi. Lokasi pembelajarandialihkan ke desa Bayoge, yang
berjarak satu setengah kilometer dari lokasi perguruan Al-Khairaat.
Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya menggunakan
penerangan seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi-
sembunyi. Tepat saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17
Agustus 1945 Habib Idrus kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara
resmi. Beliau berjuang kembali untuk mengembangkan dakwah dan pendidikan
Islam. Hingga selama kurun waktu 26 tahun (1930-1956) lembaga yang
telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur.
Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka
perguruan tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam
Al-Khairaat dengan tiga fakultas di dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra,
Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syariah. Dan Habib Idrus sebagai Rektor
pertamanya. Ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI pada tahun
1965, perguruan tinggi Al-Khairaat dinonaktifkan untuk sementara. Para
Mahasiswanya diberikan tugas untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil
kawasan Sulawesi. Hal ini sebagai upaya untuk membendung paham komunis
sekaligus melebarkan dakwah Islam. Setelah keadaan kondusif, pada tahun
1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali. Masih dalam suasana
Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib Idrus kembali
kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama dan
Sastrawan itu wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan
22 Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib
Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam
shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima
jenazah di Liang lahat, muadzin di liang lahad, sampai yang membaca
talqin di kubur. Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun
karya besarnya adalah Al-Khairaat dan murid-muridnya yang telah
memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umat. Mereka para
murid-murid Al-Khairaat meneybar di seluruh kawasna Indonesia untuk
meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah
satu murid belia yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustad Abdullah Awadh
Abdun, yang hijarh dari kota Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan
mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid di Kota
Malang. Ketika wafat, Habib Idrus telah mewariskan 25 cabang Alkhairaat
dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala
hidupnya. Kini perguruan Besar Alkahiraat dan Yayasan Al-khairaat,
dibentuk pula Wanita Islam Al-Khairaat dan Himpunan Pemuda Al-Khairaat.
Wallahu A`lam !!!
Reviewed by Unknown
Published:
Rating : 4.5
Published:
Rating : 4.5
No comments:
Post a Comment